Kearifan Lokal Sebagai Sistem Komunikasi Bahasa dan Budaya: dari pesisir Banjar ke Kangean
Kepengarangan:
Sirajuddin Kamal, S.S., M.Ed.
Husni Mubarak, S.Pd., M.Pd.
Ngalimun, S.Pd., M.Pd., M.I.Kom.
Andi Muhammad Yahya, S.Pd., M.Pd.
Arina Fitriana, S.Pd. M.Pd.
Editor:
Surjasni. S.H. M.H.
ISBN:
Dalam Pengajuan
Ukuran:
15,5 x 23 cm
Jumlah halaman:
viii, 134 hlm.
Terbit:
November 2025
Description
Di tengah homogenisasi budaya dan dominasi komunikasi digital global, buku ini berfungsi sebagai pembelaan terhadap sistem komunikasi lokal yang sering dianggap “primitif”, namun sangat kaya dan kompleks dalam dimensi filosofis, sosial, dan linguistiknya. Berjudul Kearifan Lokal sebagai Sistem Komunikasi Bahasa dan Budaya, karya ini menawarkan studi mendalam tentang lima komunitas di kepulauan, yaitu Banjar, Dayak Ngaju, nelayan pesisir Tanah Bumbu, masyarakat Kangean, dan beberapa kelompok adat lainnya, yang menganggap bahasa, simbol, ritual, dan keheningan sebagai bentuk komunikasi yang terintegrasi dan bermakna.
Buku ini dimulai dengan argumen utama bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan, tetapi sistem komunikasi yang hidup, saling terkait, dan fungsional. Melalui komunikasi etnografi dan semiotika budaya, penulis menunjukkan bagaimana masyarakat lokal menggunakan bahasa verbal, simbol non-verbal, ritual, dan narasi mitos sebagai bentuk pengetahuan yang tidak hanya fungsional untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk pengorganisasian tatanan sosial, ekologis, dan kosmologis.
Di Banjarmasin, pengajaran bahasa dalam kelas kolaboratif yang didasarkan pada nilai-nilai lokal memperkuat bahwa kerja sama adalah bentuk komunikasi. Di pantai Tanah Bumbu, tanda-tanda alam dan objek simbolik berfungsi sebagai sistem peringatan dan peta ekologi di mana awan dan kepiting menjadi media makna yang canggih. Dalam ritual sansana suku Dayak Ngaju, narasi mengenai Tatau Talang jauh lebih dari sekadar mitos, karena merupakan dokumen lisan yang mengatur kepemilikan tanah, kepemimpinan, dan hubungan antar generasi. Di Kangean, upacara pernikahan berfungsi sebagai arena untuk komunikasi tidak langsung dari struktur normatif yang padat di mana juru bicara diam dan pemberian hadiah situasional menjadi instrumen negosiasi kekerabatan.
Buku ini terdiri dari lima bab yang terstruktur secara tematik dan empiris serta bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengkonseptualisasikan kerangka teoretis baru: kearifan lokal sebagai sistem komunikatif. Sistem ini memiliki status kedaulatan, yang berarti ia memiliki logika internal, epistemologi sendiri, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan ilmu pengetahuan modern. Merupakan keharusan budaya untuk memulihkan sistem komunikatif lokal dalam kerangka dekolonisasi pengetahuan. Ini juga merupakan keharusan akademis. Sistem budaya lokal dalam komunikasi harus secara ketat mendekonstruksi struktur pengetahuan geografis.
Prof. Dr. Fatchul Mu’in, M. Hum
Additional information
| Weight | 250 g |
|---|








Reviews
There are no reviews yet.