TEKNOLOGI BERBASIS KONTEKS: Menjembatani Inovasi dan Budaya Dalam Ruang Hidup

Rp200.000
In Stock

Kepengarangan:
Retno Susanti
Ni Made Emmi Nutrisia Dewi & Ni Ketut Agusintadewi
Steffany Hartono & Claudia Olla Mandayu
Stephanus Wirawan Dharmatanna
Dewi Larasati; Riza Aulia Putra & Aswin Indraprastha
Utami & Dianna Astrid Hertoety
Theresna Zahra Sembiring &Aswin Indraprastha
I Kadek Pranajaya
Fariz Nizar; Ilham Nur Utomo & Naufal Kresna Diwangkara

Editor:
Respati Wikantiyoso

ISBN:
Dalam pengajuan

e-ISBN:
Dalam pengajuan

Ukuran:
22 x 20  cm

Jumlah halaman:
viii, 369 hlm

Terbit:
Agustus 2026

#untuk pembelian buku silakan kontak kami via whatsapp#

https://wa.me/6281802556554

This product has been added to 1 people'scarts.

In Stock

Description

Buku ini merupakan kompilasi hasil pemikiran tentang topik terkait dengan bagaimana Teknologi Berbasis Konteks mampu menjembatani Inovasi dan Budaya dalam Ruang Hidup, masa lalu, saat ini dan di masa mendatang. Perkembangan pesat teknologi informasi, dengan inovasi teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu produk dari perkembangan tersebut, secara sadar maupun tidak sadar telah berimbas pada “ketenangan” dalam praktik proses desain arsitektur. Problematika pemanfaatan AI telah menumbuhkan cara baru (penggunaan yang beretika) untuk menciptakan inovasi desain (baca: berarsitektur) dalam konteks perkembangan budaya di ruang kehidupan manusia. Dari sisi lain, fenomena ini muncul juga “kegamangan” akan kehadiran AI sebagai media; sebagian menyebutnya alat, sebagian lainnya sebagai support system yang menyediakan dataset yang diperlukan dalam proses desain arsitektur dan kota. Diskursus pada substansi buku ini menjadi menarik untuk disimak, dan keragaman topik dalam 10 bab dapat dipandang sebagai “potret” praktik keragaman implikasi fenomena desain ruang hidup, yang tentunya masih sangat sedikit untuk dapat mewakili konteks yang mendasari proses perancangan arsitektur dan kota. Buku berjudul “Teknologi Berbasis Konteks: Menjembatani Inovasi dan Budaya dalam Ruang Hidup” ini diharapkan dapat berperan dalam “menjembatani” diskursus tersebut.

“AI bisa menghitung bayangan, tetapi hanya kita yang tahu rasa teduh di bawah pohon kampung” hal ini bermakna: “Jangan biarkan algoritma mengabaikan budaya lokal, iklim dan cara hidup bermasyarakat”

Additional information

Weight 250 g