Blog

PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN SOSIAL

Judul
PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
(Telaah Konseptual Pemikiran Pendidikan Mansour Fakih)

Penulis 
H. Masduki Duryat
Alphan

Institusi 
STIT/STKIP al-Amin Indramayu

Kategori
Buku Ajar

Bidang Ilmu

ISBN
978-602-451-674-1

Ukuran
15,5 x 23 cm

Halaman
viii + 132 hlm

Tahun Terbit
Januari 2020

Sinopsis buku

Pendidikan tentu saja bukanlah serangkaian upaya mengurangi angka buta huruf atau transfer of knowledge semata. Pendidikan sejatinya adalah gerakan untuk memberantas penyakit batin berupa akal pikiran yang bengkok dan kerdil, kemauan yang lemah terkulai. Ia adalah proses penyadaran tentang harkat diri sebagai manusia dan pembentukan mindset sebagai bangsa yang merdeka. Karena itu, jalan pendidikan bagi sebuah bangsa adalah perjuangan untuk survive dan melindungi diri dari berbagai keterpurukan dengan menciptakan kesejahteraan serta membangun kebudayaan.

Sekarang ini kita terjebak hanya memproduksi anak sekolahan, bukan anak berpendidikan. Ada gagasan yang diparadokskan antara pendidikan dan persekolahan. Pendidikan dianggap sebagai proses belajar lewat pengalaman sosial alamiah masing-masing individu. Berbeda dengan persekolahan yang hanya menghasilkan satu corak pendidikan. Anak sekolahan tidak berarti manusia berpendidikan. Sekolah yang ada sekarang hanya kepanjangan tangan Negara otoritarian saja. Sekolah memerosotkan tanggungjawab individual, yang kemudian menjadikan anak-anak yang tidak bisa dididik dalam makna pendidikan yang sejati. Anak dimekanisasi sesuai dengan kemauan Negara, dekadensi moral, perilaku menyimpang, dan tidak ‘memiliki hati’ serta ‘penghormatan’ kepada guru dan orang lain.

Dunia kependidikan kita—sejak era kolonial kemerdekaan, dan bahkan sampai era reformasi ini—masih menyisakan banyak persoalan yang tidak pernah bisa diselesaikan. Sistem pendidikan lebih banyak dibangun di atas dekrit-kebijakan yang mereproduksi ideologi penguasa kaum borjuis, bukan lahir dari “rahim” kesadaran pembangunan masyarakat baru secara “revolusioner” dan “visioner”. Cita-cita pembangunan masyarakat baru kiranya belum dielaborasikan ke dalam visi, misi, dan orientasi sistem pendidikan. Srategi perubahan “revolusioner”, sebagai peran yang harus dimainkan oleh pendidikan, belum jelas atau bahkan sengaja tidak diperjelas. Sehingga eksistensi sekolah sebagai pemasok utama masyarakat berpendidikan hanya menjadi media reproduksi ideologi pemerintah. Ini perlu dimaklumi, “karena negara ini tidak pernah di/melahirkan pemimpin yang akomodatif terhadap pendidikan maju, sehingga pertanggungjawaban secara akademis/intelektual di akhir jabatan pun bukan sesuatu yang utama”.

Write a comment