Blog

TUNJUK AJAR DALAM SAMPIRAN PANTUN ADAT MINANGKABAU : Buku Monograf

Penulis
Yosi Wulandari

Kategori
Monograf

ISBN
dalam proses

Ukuran
14 x 20 cm

Halaman
iv, 55 hlm

Tahun Terbit
Maret 2023

Harga
Rp 45.000,-

Sinopsis buku

Sampiran pantun Melayu secara umum dianggap tidak memiliki makna oleh sebagian besar peneliti. Hanya isi pantun yang memiliki makna. Berbeda dengan hal tersebut, dalam penelitian ini sampiran pantun adat Minangkabau memiliki makna yang sejalan dengan makna isi pada pantun. Sampiran yang digunakan dalam pantun-pantun adat Minangkabau menunjukkan filosofi adat Minangkabau yang sarat akan makna tunjuk ajar. Sampiran yang digunakan – merupakan simbol-simbol yang mengarahkan pada makna ajaran berbudi yang harus dijaga dan diperhatikan oleh seluruh masyarakat Minangkabau. Terutama berkaitan dengan cara bertutur kata, menjaga budi pekerti, menggunakan akal, menimbang rasa, dan menempatkan diri dalam bersikap.
Tunjuk ajar yang disajikan dalam pantun adat Minangkabau merupakan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau yang menjadikan aturan agama sebagai dasar aturan adat. Beberapa di antaranya mengacu pada Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (Adat bersendikan kepada syariat, syariat bersendikan kepada Al-Qur’an). Prinsip syarak adalah prinsip adat. Beberapa prinsip tersebut adalah sebagai berikut; Yang baik diambil, nan buruk dibuang, syarak yang mengato, adat nan dipakai; syarak bertelanjang, adat bersesamping. Salah satu prinsip utama adalah adat menegakkan keadilan; Timbangan nan adil, bungka nan bagatok, taraju nan piawai.

Write a comment